Minggu, 20 Maret 2011

makalah tentang agama budha

AGAMA BUDHA

A. Pendahuluan
Telah kita ketahui bahwasanya di dunia ini terdapat bermacam-macam agama. Mulai dari agama samawi sampai agama ardhi. Ada tiga amgama besar di dunia yakni Islam, Kristen dan Buddha. Agama Islam dibawah oleh Nabi Muhammad, sedangkan agama Kristen dibawah oleh Yesus Kristus dan agama Buddha dibawah oleh Siddharta Gauttama.
Dalam makalah ini kami akan mencoba membahas secara singkat tentang agama Buddha, baik dalam segi awal mula adanya agama Buddha, Biografi Siddharta Gautama, ajaran agama Buddha dan Sang Buddha dalam pandangan Islam.

B. Sejarah agama Buddha
Mulai dari abad ke-6 SM sampai sekarang dari lahirnya sang Buddha Siddharta Gautama. Dengan ini, ini adalah salah satu agama tertua yang masih dianut di dunia. Selama masa ini, agama ini sementara berkembang, unsur kebudayaan India, ditambah dengan unsur-unsur kebudayaan Helenistik (Yunani), Asia Tengah, Asia Timur dan Asia Tenggara. Dalam proses perkembangannya ini, agama ini praktis telah menyentuh hampir seluruh benua Asia. Sejarah agama Buddha juga ditandai dengan perkembangan banyak aliran dan mazhab, serta perpecahan-perpecahan. Yang utama di antaranya adalah aliran tradisi Theravada , Mahayana, dan Vajrayana (Bajrayana), yang sejarahnya ditandai dengan masa pasang dan surut.
Menurut tradisi Buddha, tokoh historis Buddha Siddharta Gautama dilahirkan dari suku Sakya pada awal masa Magadha (546–324 SM), di sebuah kota, selatan pegunungan Himalaya yang bernama Lumbini. Sekarang kota ini terletak di Nepal sebelah selatan. Ia juga dikenal dengan nama Sakyamuni (harafiah: orang bijak dari kaum Sakya").
Setelah kehidupan awalnya yang penuh kemewahan di bawah perlindungan ayahnya, raja Kapilavastu (kemudian hari digabungkan pada kerajaan Magadha), Siddharta melihat kenyataan kehidupan sehari-hari dan menarik kesimpulan bahwa kehidupan nyata, pada hakekatnya adalah kesengsaraan yang tak dapat dihindari. Siddharta kemudian meninggalkan kehidupan mewahnya yang tak ada artinya lalu menjadi seorang pertapa. Kemudian ia berpendapat bahwa bertapa juga tak ada artinya, dan lalu mencari jalan tengah (majhima patipada ). Jalan tengah ini merupakan sebuah kompromis antara kehidupan berfoya-foya yang terlalu memuaskan hawa nafsu dan kehidupan bertapa yang terlalu menyiksa diri.
Di bawah sebuah pohon bodhi, ia berkaul tidak akan pernah meninggalkan posisinya sampai ia menemukan Kebenaran. Pada usia 35 tahun, ia mencapai Pencerahan. Pada saat itu ia dikenal sebagai Gautama Buddha, atau hanya "Buddha" saja, sebuah kata Sansekerta yang berarti "ia yang sadar" (dari kata budhta).
Untuk 45 tahun selanjutnya, ia menelusuri dataran Gangga di tengah India (daerah mengalirnya sungai Gangga dan anak-anak sungainya), sembari menyebarkan ajarannya kepada sejumlah orang yang berbeda-beda.
Keengganan Buddha untuk mengangkat seorang penerus atau meresmikan ajarannya mengakibatkan munculnya banyak aliran dalam waktu 400 tahun selanjutnya: pertama-tama aliran-aliran mazhab Buddha Nikaya, yang sekarang hanya masih tersisa Theravada, dan kemudian terbentuknya mazhab Mahayana, sebuah gerakan pan-Buddha yang didasarkan pada penerimaan kitab-kitab baru.

C. Biografi Siddharta Gautama
Terdapat 7 kisah tentang peristiwa kelahiran Buddha. Kisah 1: Mimpi buruk raja Kapilavastu. Ialah ayah Buddha yaitu Siddharta Gautama. Walaupun raja sudah lama menikah dengan Ratu Maha Maya tetapi belum mendapatkan keturunan. Selama Ratu Maha Maya berumur 40, pada suatu malam, ratu mimpi buruk. Dalam mimpi itu ratu melihat sebuah seorang pemuda sedang menunggang seekor gajah putihyang besar di atas langit yang semakin mendekatinya. Pemuda dengan gajah putih itu masuk ke dalam perut ratu melalui bagian awah lengan kiri sang Ratu. Ratu terbangun karena terkejut dan sadar bahwa semua itu hanya mimpi. Tidak lama seelah kejadian mimpi buruk tersebut, ratu pun mengandung.
Kisah 2: Masa kehamilan 10 bulan itu terasa sangat cepat. Pada suatu hari ratu meminta berjalan-jalan di taman Lumbini. Setelah itu ratu pulang ke rumah ibunya untuk melahirkan anaknya. Di tengah perjalanan ke rumah ibunya ratu telah melahirkan putranya, Siddharta Gautama (623 M). Pada saat melahirkan posisi ratu sedang berdiri dan bertumpu pada dahan pohon sal. Selama proses melahirkan ratu tidak merasakan sakit sama sekali. Pada saat itu terjadilah keajaiban yakni bayi yang baru lahir tersebut dapat berjalan sebanyak 7 langkah, dan disetiap langkahnya tumbuh sekuntum bunga teratai.
Dan bayi itu berkata: “Ini merupakan kelahiranku yang terakhir di dunia ini. Aku dilahirkan untuk menjadi Buddha. Akulah orang yang paling mulia dan akan membawa ilmu dan ajaran untuk menyelamatkan semua insan di dunia ini”.
Kisah 3: Pada usia 20 tahun Siddharta meninggakan kehidupan istana serta anak istrinya dan bertekad untuk menjadi seorang zahid. Sedah bertahun-tahun Siddharta berusaha untuk mencari jawaban atas persoalan-persoalan dalam hatinya. Siddharta membiasakan dirinya makan biji-bijian tetapi semua usaha itu membuahkan hasil. Siddharta semakin kurus dan tidak berdaya.
Pada suatu hari, Siddharta mendengar perkataan pemain musik, emudian ia tersadar akan tujuannya. Setelah itu Siddharta menerima susu dari seorang gadis baik hati. Kemudian ia berjalan sampai di bawah pohon Bodhi dan dia bersumpah jika tidak dapat menemui kebenaran dan jawaban tas persoalan-persalannya dia tidak akan meningalkan tempat itu.
Kisah 4: Raja setan menghalangi Sidharta untuk mencari kebenaran. Ia uga berusaha memuai Siddharta dengan binatang buas. Dan ia juga memerintahkan ke-3 anak perempuannya untuk menggoda Siddharta agar menggagalkan usahanya dalam menemukan kebenaran. Namun Siddharta tetap tenang seperti air dan tidak memerdulikannya.
Kisah 5: Setelah berhasil mengusir raja setan pada usia 35 tahun, Siddharta telah mencapai makrifat. Pada saat itu, Siddharta Gautama telah menukar gelarnya sebagai Gautama Buddha.
Kisah 6: Penyebaran ajaran Buddha adalah perjalanannya menjelajahi beberapa tempat untuk menyebarkan ilmu dan kebenaran itu. Tak memperdulikan lapisan masyarakat, Buddha mengajar dengan penuh kesabaran dan menjawab segala persoalan dengan bersunguh-sungguh. Hingga pengikut-pengikutnya kia bertambah.
Pada suatu hari ketika ia sedang betapa, tiba-tiba ia mendapat petunjuk bahwasanya ayahnya sakit parah. Seorang utusan raja telah menyampaikan pesan kepada Buddha bahwasanya ayahnya ingin melihat anaknya untuk terakhir kali. Buddha tidak menolak dan ia pun pergi ke istana untuk menjenguk ayahnya. Setibanya di sana, Buddha mendekati Maha raja yang sudah berumur 93 tahun yang sedang berbaring itu dan mengulurkan tangannya.
Setelah Buddha memegang tangan ayahnya, maha raja berkata bahwa dia tidak menyesali kepergian putranya, karena putranya telah menjadi seorang Buddha yang dihormati. Selepas kata-kata itu, raja telah meninggal dunia. Semua orang disana menangis terisak-isak kecuali Buddha yang melihat ayahnya dengan tenang. Setelah itu banyak kaum kerabat yang menjadi pengikutnya.
Kisah 7: ada masa Buddha menginjak usia 80 tahun, Buddha telah meramalkan kematiannya. Hingga akhir hayatnya, Buddha masih mengajar pengikut-pengikutnya. Pada bulan ke-2 hari ke-15 di tengah malam bulan prnama, Buddha menutup mata selama-lama. Pada masa kini agama Budha telah menjadi salah satu dari tiga agama utama di dunia ini.
Cirri-ciri agama Budha:
1. Agama Budha tidak mengabaikan atau mengutuk agama lain sebagai agama jahat.
2. Agama Budha mengakui semua jenis agama di dunia ini dan membedakan agama berdasarkan pahamnya bukan citranya baik atau buruk.
3. Budhisme adalah demokrasi dan kebebasan.
4. Dalam ajaran agama Budha, kenyataan dan ilmu yang diajarkan bukan perintah yang harus dituruti.
5. Perayaan hari Waisak merupakan perayaan yang paling penting karena mengingatkan umat Budha pada tiga pristiwa penting mengenai Kelahiran Buddha, Penjedian Buddha dan wafatnya Buddha.
Lima larangan yang diajarkan agama Budha:
1. Tidak membunuh dan tidak mengancam nyawa orang lain.
2. Tidak mencuri dan tidak mengancam harta benda orang lain.
3. Tidak berzina dan tidak mengancam kesucan orang lain.
4. Tidak berohong dan tidak mengancam reputasi orang lain.
5. Tidak meminum arak dan tidak mengancam rasional sendiri dan keselamatan orang lain.

D. Ajaran Agama Budha
Konsep Ketuhanan
Perlu ditekankan bahwa bahwa Buddha bukan Tuhan. Konsep ketuhanan dalam agama Buddha berbeda dengan konsep ketuhanan dalam agama samawi. Dimana alam semesta dicipakan oleh Tuhan dan tujuan akhir dari hidup manusia adalah kembali ke surga ciptaan Tuhan yang kekal.
“Ketahuilah para bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Wahai para bikkhu apabila tidak Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para bikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu”.
Ungkapan di atas adalah pernyataan dari Buddha yang terdapat dalam Sutta Pitaka, Udana VIII: 3, yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Maha Esa dalam agama Budha. Ketuhanan Yang Maha Esa dalam bahasa Pali adalah Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang yang artinya “Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak”. Dalam hal ini Kethanan Yang Maha Esa adalah suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak data dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentu apapun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asamkhatang) maka manusia yang berkondisi (samkhatang) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi .
Bila kita mempelajari ajaran agama Budha seperti yang terdapat dalam Kitab Suci Tripitaka, maka bukan hanya konsep ketuhanan yang berbeda dengan konsep ketuhanan dalam agama lain, tetapi banyak konsep lain yang tidak sama pula. Konsep-konsep agama Buddha yang berlainan dengan konsep-konsep dari agama lain antara lain adalah konsep tentang alam semesta, terbentuknya bumi dan manusia, kehidupan manusia di alam semesta, kiamat dan keselamatan atau kebebasan.
Di dalam agama Buddha tujuan akhir hidup manusia adalah mencapai kebudhaan (anutara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati di mana roh manusia tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir. Untuk mencapai itu pertolongan dan bantuan pihak lain tidak ada pengaruhnya. Tidak ada dewa-dewa yang dapat membantu, hanya dengan usaha sendirilah kebudahan dapat dicapai. Budha hanya merupakan contoh, juru pandu, dan guru bagi mahluk yang perlu melalui jalan mereka sendiri, mencapai pencerahan rohani, dan melihat kebenaran dan realitas sebenar-benarnya.
Sebagaimana agama Islam dan Kristen agama Budha juga menjunjung tingi nilai-nilai kemoralan. Nilai-nilai kemoralan yang diharuskan untuk umat awam umat Budha biasanya di kenal dengan pancasila. Kelima nilai kemoralan untuk umat awam adalah:
Panatiata Veramani Sikkhapadam Samadiyami
Adinnadana Veramani Sikkhapadam Samadiyami
Kamesu Micchacara Veramani Sikkhapadam
Musafada Veramani Sikkhapadam Samadiyami
Surameraya Majjapamadatthana Veramani Sikkhapadam Samadiyami
Yang artinya:
Aku bertekad akan melatih diri menghinari pembunuhan mahluk hidup
Aku bertekad akan melatih diri menghinari pencurian atau engambil barang yang tidak diberikan.
Aku bertekad akan melatih diri menghinari melakukan perbuatan asusila.
Aku bertekad akan melatih diri menghinari melakukan perkataan dusta.
Aku bertekad akan melatih diri menghinari makanan atau minumam yang dapat mengakibatkan lemahnya kesadaran.
Selain nilai-nilai moral di atas, agama Budha juga amat menjunjung tinggi karma sebagai sesuatu yang berpegang pada prinsip sebab akibat. Kamma (bahasa Pali) atau karma (bahasa Sansekerta) berarti perbuatan atau aksi. Jadi ada aksi atau karma baik dan adapula aksi atau karma buruk. Saat ini, istilah Karma sudah terasa umum digunakan, namun cenderung di artikan secara keliru sebagai hukuman turunan atau hukuman berat dan lain sebagainya. Guru Budha dalam Nibbedhika Sutta, Anguttara NikayaVI: 63 menjelaskan secara jelas arti dari kamma: “Para bikkhu, cetana (kehendak)lah yang kunyatakan sebagai kamma. Setelah berkehendak, orang melakukan suatu tindakan lewat tubuh, ucapan atau pikiran”.
Jadi kamma berarti semua jenis kehendak (cetana), perbuatan yang baik maupun buruk yang dilakukan oleh jasmani (kaya), perkataan (vaci), dan pikiran (mano), yang baik (kusala) maupun yang jahat (akusala).
Kama atau sering disebut sebagai hukum kamma merupakan salah satu hukum alam yang bekerja berdasarkan prinsip sebab akibat. Selama suatu mahluk berkehendak, melakukan kamma (perbuatan) sebagai sebab maka akan menimbulkan akibat atau hasil. Akibat atau hasil yang ditimbulkan dari kamma disebut sebagai kamma Vipaka.

E. Sang Budha Dalam Al-Qur’an
Tidak ada kata-kata “Buddha” dalam Al Quran, namun para sejarawan dan peneliti mengaitkan beberapa ayat Al-Quran dengan Sang Buddha.
“Demi (buah) Tin (fig) dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (Quran Surat at-Tin (95): 1)
Buah Zaitun melambangkan Yerusalem, Yesus dan Kristianitas. Bukit Sinai melambangkan Musa dan Yudaisme. Kota Mekah menyimbolkan Islam dan Muhammad. Lantas pohon Tin (fig) melambangkan apa?
Tin = fig = Pohon Bodhi.
Pohon Bodhi adalah tempat Sang Buddha mencapai Penerangan Sempurna.
Ada penafsir-penafsir zaman sekarang sebagaimana disebutkan oleh al-Qasimi di dalam tafsirnya berpendapat bahwa sumpah Allah dengan buah tin yang dimaksud ialah pohon Bodhi. Prof. Hamidullah juga mengatakan bahwa perumpamaan pohon (buah) tin (fig) di dalam Quran ini merepresentasikan Sang Buddha, sehingga menunjukkan bahwa Sang Buddha diakui sebagai nabi di dalam agama Islam.
Hamid Abdul Qadir, sejarawan abad 20 mengatakan dalam bukunya :
“Buddha Yang Agung: Riwayat dan Ajarannya” (Arabic: Budha al-Akbar Hayatoh wa Falsaftoh), bahwa Sang Buddha adalah nabi Dhul Kifl, yang berarti “ia yang berasal dari Kifl”. Nabi Dhul Kifl disebutkan 2 kali dalam Quran:
“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli (Dhul Kifl). Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar”. QS. al-Anbiya (21) : 85
“Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa, dan Dzulkifli (Dhul Kifl). Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik”. QS. Shad (38): 48
“Kifl” adalah terjemahan Arab dari Kapilavastu, tempat kelahiran Sang Bodhisattva.
Mawlana Abul Azad, teolog Muslim abad 20 juga menekankan bahwa Dhul Kifl dalam Al Quran bisa saja adalah Buddha.

F. Kesimpulan
Dalam makalah ini teah dijelaskan bahwasanya Buddha bukan sosok Tuhan. Dalam konsep ketuhanan dalam agama Budha berbeda dengan konsep ketuhanan dalam agama samawi. Dimana alam semesta diciptakan oleh Tuhan dan tujuan akhir dari hidup manusia adalah kembai ke surga ciptaan Tuhan yang kekal.
Dalam al-Qur’an tidak dijelaskan dan tidak terdapat kata “Buddha” namun para sejarawan dan para peneliti mengaitkan beberapa ayat al-Qur’an dengan sang Budha.
Sebagaimana surat at-Tin yang mana menerangkan bahwasanya Buah Zaitun melambangkan Yerusalem, Yesus dan Kristianitas. Bukit Sinai melambangkan Musa dan Yudaisme. Kota Mekah menyimbolkan Islam dan Muhammad. Dan pohon Tin (fig) melambangkan Pohon Bodhi dan Buddha.

G. Kepustakaan
http://aqidah-wa-manhaj.blogspot.com/2007/06/pengajian-005-pandangan-islam-terhadap.html
http://dhammacitta.org/
http://id.wikipedio.org/wiki/sejarah_agama_buddha
http://indonesia.faithfreedom.org/forum/perbandingan-agama-lain-dengan-agama-islan-t31942
http://www.ehipassiko.net/index.php?option-com_content&view-article&id-30&itemid=12&limitstart=13

2 komentar:

  1. footnotnya cm dari Internet fren... lok d jadikan makalah lum memenuhi syarat

    BalasHapus
  2. Islam ini sangat mencintai Buddha, saking cintanya Buddha dianggap sebagai Nabi Dzulkifli, dan Muhammad sebagai Buddha Maitreya. kekekek...
    setelah ditelusuri dengan benar, tentu saja Buddha Gautama bukanlah Dzulkifli dan Muhammad jelas-jelas bukan Maitreya (the next Buddha), sebab seorang Bakal Buddha (Bodhisatta) mempunyai ciri-ciri 32 tanda agung. Baik Dzulkifli dan Muhammad tidak memiliki 1 tanda agung pun. hehehehe

    BalasHapus

isi dengan sepenuh hati ya,,, jangan cuma iseneng2